Tak Kunjung Beroperasi, Pabrik Wood Pellet ‘Berhala’ di Tepi A Yani

Tak Kunjung Beroperasi, Pabrik Wood Pellet ‘Berhala’ di Tepi A Yani

Rampung dibangun, dan dipungkasi dengan seremoni peresmian di 2013, pabrik wood pellet di Kecamatan Mataraman sampai kini tak kunjung beroperasi. Megah bangunan pabrik yang berada di pinggir jalan A Yani di Desa Lok Tamu ini senantiasa menjadi pajangan semata. Pabrik wood pellet hasil kerjasama Indonesia-Korea Selatan punya nilai miliaran rupiah ini kini menjelma menjadi ‘berhala’.

Kecamatan Mataraman dan sekitarnya ini. Pabrik wood pellet senantiasa didekap sunyi di terhadap riuh lantas lalang kendaraan yang melintas di Jalan A Yani.

Padahal sejak pertama dimulainya pembangunan, keberadaan pabrik menjadi asa besar warga sekitar. Karena operasional pabrik diinginkan akan menyerap banyak tenaga kerja. “Awalnya suka tersedia pabrik besar yang dibangun dan akan beroperasi. Karena tentu aka suara banyak lowongan pekerjaan. Tapi ternyata sampai kini pabrik tak terhitung beroperasi,” kata Ndimin, salah seorang warga Desa Lok Tamu yang ditemui premium wood pellet

Tak kunjung beroperasi, kendati lebih dari satu th. lalu, terhadap Oktober 2016, Bupati dan Wakil Bupati Banjar, H Khalilurrahman-H Saidi Mansyur sempat meninjau ke pabrik yang dibangun dengan nilai investasi pihak Korea Selatan meraih 4 juta Dollar Amerika ini.

Kedatangan Bupati dan wakilnya tepat itu disambut Project Manager Pabrik Wood Pellet, Park Wonhee. Disampaikan Park, pabrik pengolahan wood pellet memakai sisa-sisa kayu di dalam banyak variasi bentuk, terhitung serbuk kayu dan ranting pohon sebagai bahan baku utama.

Dinamakan wood pellet, ujar Park, lantaran hasil olahannya berwujud cetakan kayu sama pellet pakan ikan. Wood pellet nantinya akan diekspor ke Korea Selatan untuk diolah menjadi banyak variasi barang kepentingan di Negeri Ginseng tersebut.

BACA JUGA :
Nganggur Bertahun-tahun, Pabrik Pelet Kayu di Mataraman akan Disewakan
Melimpah kayu karet di wilayah Kecamatan Mataraman, menjadi salah satu pertimbangan dibangunnya pabrik wood pellet. Kayu karet terhitung akan banyak dipasok berasal dari PTPN 13 Kebun Danau Salak yang terhitung beroperasi di wilayah Kecamatan Mataraman. Peremajaan kebun karet dengan luas 300 hektare per th. oleh pihak PTPN, menjadi penjamin ketersediaan bahan baku, disamping bahan baku yang dipasok berasal dari kebun-kebun karet punya penduduk yang sesungguhnya terhampar luas.

Sayangnya, tak tersedia penjelasan berasal dari pihak pemerintah area perihal belum beroperasinya pabrik wood pellet. Saat klikkalimantan.com ingin mengonfirmasinya ke Bagian Ekonomi terhadap Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Banjar, Kepala Bidang (Kabag) Ekonomi, Rina Yulianti tengah tidak di tempat. “Ibu tengah rapat,” kata salah seorang staf Bagian Ekonomi, Kamis (14/11/2019).

Pasokan Bahan Baku yang Perlu Diwaspadai

Ketersediaan bahan baku berwujud limbah pohon karet, terhitung pasokan berasal dari PTPN 13 Kebun Danau Salak untuk wood pellet tampaknya harus dikaji ulang. Telebih lagi terkecuali pabrik tak kunjung beroperasi di dalam th. dekat ini.

Pasalnya, di tengah keterpurukan harga karet di dalam lebih dari satu th. paling akhir membawa dampak PTPN 13 yang merupakan perusahaan punya negara ini menjadi jenggah. Eksistensi mempertahankan karet sebagai komoditi utama perkebunan menjadi goyah di tengah kerugian yang senantiasa dialami perusahaan.

Cash flow perusahaan yang tak sehat itu, menurut Thamrin, Humas terhadap PTPN 13 Kebun Danau Salak, memaksa managemen berpikir lagi mempertahan karet. Sejumlah opsi pun lantas diambil. Satu diantaranya adalah mengganti komoditi berasal dari karet menjadi sawit.

“Diusulkan total lahan diganti sawit. Sesuai RAKP direksi, targetnya lima th. dan di 2018 selayaknya telah kira-kira 750 hektare lahan karet diganti sawit. Namun karena senantiasa terkendala di perijinan, yang tertanam sebagai percontohan kira-kira 100 hektare,” kata Thamrin yang menjelaskan total luas lahan punya PTPN 10.000 hektare.

Leave a Comment